Cara mencegah double booking hotel antara OTA dan WhatsApp
Cara hotel kecil yang menjual kamar di OTA dan WhatsApp mencegah double booking: kalender induk, aturan blokir manual, cek silang harian, dan saat bentrok.
Ditulis oleh Tim Autoberes
7 menit baca
Double booking terjadi saat satu kamar terjual dua kali untuk malam yang sama. Di hotel kecil, penyebab paling umum adalah kamar dijual di beberapa tempat sekaligus (Traveloka, Booking.com, Agoda, WhatsApp, telepon, tamu datang langsung) dan tidak semua penjualan itu langsung tercatat di satu tempat.
Hotel yang memakai channel manager atau PMS yang tersambung ke OTA punya bantuan otomatis untuk menurunkan stok kamar. Tapi booking yang masuk lewat WhatsApp dan telepon tetap harus diinput manusia. Artikel ini membahas disiplin kerja yang mencegah bentrok, dengan atau tanpa sistem.
Kenapa double booking bisa terjadi
Double booking terjadi karena ada jeda antara kamar terjual di satu tempat dan stoknya turun di tempat lain. Selama jeda itu, kamar masih terlihat kosong di saluran lain.
Dokumentasi Booking.com untuk mitra konektivitas menyebut overbooking terjadi saat sebuah kamar menerima lebih banyak booking daripada yang bisa ditampung, dan mencantumkan beberapa penyebab: gangguan sistem yang menghentikan pembaruan ketersediaan, permintaan menutup kamar yang terlambat, dan kesalahan pemetaan tarif (Booking.com Developer Docs).
Untuk hotel kecil yang mengelola OTA secara manual, penyebabnya biasanya lebih sederhana:
- Resepsionis menerima booking WhatsApp, tapi lupa menutup kamar di ekstranet OTA.
- Booking dari OTA masuk ke email pemilik, dan resepsionis yang memegang WhatsApp tidak tahu.
- Dua resepsionis di shift berbeda menjanjikan kamar yang sama ke dua tamu.
- Tamu batal di WhatsApp, kamar dibuka lagi di OTA, lalu tamu itu berubah pikiran.
- Kamar dijanjikan lisan ("nanti saya tahan ya, Kak") tanpa dicatat di mana pun.
Semua penyebab itu punya akar yang sama: tidak ada satu tempat yang menjadi patokan isi kamar.
Langkah 1: tentukan satu kalender induk
Kalender induk adalah satu tempat yang dianggap benar soal kamar mana terisi malam apa. Semua booking dari semua saluran harus masuk ke sana, dan semua orang mengecek ke sana sebelum menjanjikan kamar.
Bentuknya bisa apa saja selama semua staf bisa membuka dan mengubahnya: PMS, spreadsheet bersama, atau aplikasi kalender kamar. Buku tulis di meja resepsionis tidak cukup kalau pemilik atau resepsionis lain menerima booking dari ponsel di luar meja.
Format yang paling mudah dibaca adalah satu baris per kamar dan satu kolom per malam:
| Kamar | Jum 14 | Sab 15 | Min 16 | Sen 17 |
|---|---|---|---|---|
| Deluxe 101 | WA, Budi | WA, Budi | ||
| Deluxe 102 | Booking.com, 4821xxx | Booking.com, 4821xxx | ||
| Superior 201 | Traveloka, 1290xxx | |||
| Superior 202 | Walk-in, Sari |
Tulis per kamar, bukan per tipe. Kalau hanya menulis "Deluxe: 2 terjual", tidak ada yang tahu kamar mana yang masih kosong saat tamu ketiga datang. Catat juga sumber dan nomor booking OTA. Saat ada keluhan, nomor itu yang dicari di ekstranet.
Langkah 2: aturan blokir manual yang dijalankan semua shift
Setiap booking yang masuk di luar OTA harus diikuti penutupan kamar di semua OTA yang menjual tipe itu. Aturan ini harus tertulis, bukan hanya diingat.
Contoh aturan yang bisa ditempel di meja resepsionis:
- Cek kalender induk sebelum menjanjikan kamar. Jangan menjawab "ada" dari ingatan.
- Begitu tamu WhatsApp, telepon, atau walk-in setuju, catat di kalender induk saat itu juga, meski DP belum masuk. Tandai statusnya "menunggu DP".
- Kalau sisa kamar di tipe itu tinggal sedikit, tutup atau kurangi stoknya di ekstranet setiap OTA yang menjual tipe tersebut.
- Saat booking OTA masuk, catat di kalender induk dengan nama OTA dan nomor bookingnya.
- Saat booking batal atau DP tidak dibayar sampai batas waktu, hapus dari kalender induk dulu, baru buka lagi di OTA.
- Pergantian shift: serah terima daftar booking hari itu yang belum tercatat lengkap.
Langkah 3 butuh keputusan pemilik: kapan stok di OTA dikurangi. Hotel dengan sedikit kamar per tipe biasanya lebih aman menutup tipe itu di OTA begitu sisa satu kamar, lalu menjual kamar terakhir hanya lewat saluran langsung. Hotel dengan banyak kamar bisa menunggu sampai lebih dekat penuh.
Perhatikan juga perilaku OTA saat ada pembatalan. Booking.com, misalnya, punya fungsi bawaan bernama auto-replenishment yang otomatis menjual lagi kamar yang dibatalkan (Booking.com Developer Docs). Kalau kamar itu sudah kamu jual ke tamu WhatsApp setelah pembatalan, kamar bisa terjual dua kali. Cek pengaturan ini di ekstranet atau tanyakan ke perwakilan OTA-mu.
Langkah 3: cek silang setiap hari
Cek silang harian menangkap booking yang lolos dari pencatatan sebelum tamunya datang. Lakukan di jam yang sama setiap hari, misalnya pagi setelah serah terima shift.
Yang dicek:
- Daftar booking baru di ekstranet setiap OTA sejak cek terakhir, cocokkan dengan kalender induk
- Booking WhatsApp yang statusnya masih "menunggu DP" dan sudah lewat batas bayar
- Pembatalan dari OTA yang belum dihapus dari kalender induk
- Tamu yang check-in hari ini dan besok: kamarnya sudah ditetapkan dan tidak dobel
- Kamar yang ditutup manual di OTA tapi sebenarnya sudah kosong lagi
Cek untuk tamu besok paling penting. Bentrok yang ketahuan sehari sebelumnya masih bisa diselesaikan dengan menelepon tamu dan menawarkan pilihan. Bentrok yang ketahuan saat dua tamu berdiri di depan meja resepsionis jauh lebih sulit.
Langkah 4: jangan menahan kamar tanpa batas waktu
Kamar yang ditahan tanpa batas waktu adalah sumber bentrok yang sering tidak terlihat. Resepsionis bilang "saya tahan ya, Kak", tamu tidak kunjung transfer, lalu kamar itu tidak dijual ke orang lain atau malah dijual tanpa menghapus tahanan pertama.
Setiap tahanan harus punya batas waktu yang disebut ke tamu dan dicatat di kalender induk:
Kamar [Deluxe] untuk [14 sampai 16 Nov] kami tahan atas nama Kak [Nama] sampai [hari ini jam 20.00]. Kalau DP Rp[nominal] belum masuk sampai jam itu, kamar kami buka lagi untuk tamu lain ya, Kak.
Saat batas lewat, hapus tahanan dari kalender induk, buka lagi di OTA kalau sebelumnya ditutup, lalu kabari tamu.
Kak [Nama], sampai jam [20.00] kami belum menerima DP untuk kamar [Deluxe] tanggal [14 sampai 16 Nov], jadi tahanannya sudah kami lepas. Kalau Kakak masih berminat, kabari saja. Kami cek lagi ketersediaannya.
Kalau bentrok sudah terjadi
Kalau dua tamu sudah memegang konfirmasi untuk kamar yang sama, prioritasnya adalah mengabari tamu yang terdampak secepat mungkin dengan solusi, bukan hanya permintaan maaf. Undang-undang Perlindungan Konsumen menjamin hak konsumen mendapatkan jasa sesuai kondisi yang dijanjikan (UU 8/1999, Pasal 4 huruf b), jadi tamu yang tidak mendapat kamar yang sudah dikonfirmasi punya alasan kuat untuk menuntut penyelesaian.
Urutan yang bisa dipakai:
- Pastikan dulu fakta di kalender induk dan ekstranet: siapa yang booking duluan, lewat mana, sudah bayar berapa.
- Cari kamar lain di hotelmu: tipe yang sama di kamar lain, atau tipe lebih tinggi tanpa biaya tambahan.
- Kalau hotel penuh, cari kamar di hotel lain di dekatmu dengan kelas setara.
- Hubungi tamu yang terdampak dengan pilihan yang sudah pasti, bukan "kami usahakan".
- Kalau booking berasal dari OTA, ikuti prosedur OTA tersebut. Untuk Booking.com, dokumentasinya menyebut properti harus menghubungi Customer Service Booking.com untuk mendaftarkan overbooking, dan tim mereka akan menghubungi tamu serta membantu mencarikan kamar pengganti (Booking.com Developer Docs).
- Catat penyebabnya di satu daftar, lalu perbaiki aturan yang bocor.
Kak [Nama], kami mohon maaf. Ada kesalahan pencatatan di pihak kami dan kamar [Deluxe] untuk [14 Nov] ternyata sudah terisi. Kami sudah siapkan pilihan: 1. Kamar [Executive] di hotel kami untuk tanggal yang sama, tanpa biaya tambahan 2. Kamar setara di [Nama Hotel lain], [jarak] dari sini. Selisih harga kami tanggung 3. Pembatalan dengan DP dikembalikan penuh Kakak lebih nyaman yang mana? Kami siap bantu sekarang.
Tawaran kompensasi di template itu hanya contoh. Isinya harus diputuskan pemilik hotel sebelum kejadian, supaya resepsionis tidak bingung saat harus menjawab tamu yang kecewa.
Bagian yang bisa diserahkan ke sistem
Disiplin di atas bergantung pada manusia yang selalu ingat mencatat. Bagian yang paling rawan adalah booking WhatsApp di jam ramai atau malam hari. Autoberes membantu di bagian ini: setiap booking WhatsApp dicatat di kalender kamar, kamar dicek per malam sebelum dijanjikan ke tamu, dan booking dari Traveloka, Tiket.com, Agoda, atau Booking.com yang dicatat staf ikut mengunci kamarnya. Autoberes belum tersinkron otomatis dengan OTA maupun PMS, jadi booking OTA tetap harus dicatat staf, dan penutupan kamar di ekstranet OTA tetap dilakukan manual.
Pertanyaan yang sering muncul
Apa beda double booking dan overbooking?
Dalam percakapan sehari-hari keduanya sering dipakai bergantian. Overbooking kadang dipakai untuk penjualan kamar melebihi kapasitas yang disengaja (misalnya karena memperkirakan ada pembatalan), sedangkan double booking biasanya berarti satu kamar terjual dua kali karena kesalahan pencatatan. Untuk hotel kecil, keduanya berakhir sama: ada tamu yang tidak kebagian kamar.
Apakah hotel kecil wajib memakai channel manager?
Tidak wajib. Channel manager membantu menurunkan stok di semua OTA secara otomatis, tapi tetap butuh booking WhatsApp dan walk-in diinput staf. Hotel dengan sedikit kamar dan satu atau dua OTA bisa mencegah double booking dengan kalender induk dan aturan blokir manual yang dijalankan konsisten.
Kapan sebaiknya menutup kamar di OTA?
Itu keputusan pemilik dan tergantung jumlah kamar per tipe. Hotel dengan dua atau tiga kamar per tipe sering memilih menutup tipe itu di OTA saat tinggal satu kamar, lalu menjual sisanya lewat WhatsApp. Yang penting aturannya tertulis dan semua shift menjalankan aturan yang sama.
Berapa lama kamar boleh ditahan untuk tamu WhatsApp?
Tidak ada aturan baku. Hotel biasanya memberi beberapa jam, dan lebih pendek saat musim ramai. Yang penting batas waktunya disebut ke tamu, dicatat di kalender induk, dan benar-benar dijalankan saat lewat.
Sumber
- Troubleshooting overbookings, Booking.com Connectivity Developer Docs. Penyebab overbooking, auto-replenishment, dan kewajiban properti mendaftarkan overbooking ke Customer Service
- UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (JDIH BPK). Pasal 4 huruf b, hak konsumen mendapat jasa sesuai kondisi yang dijanjikan
Mau balasan dan pengingat seperti ini berjalan sendiri?
Autoberes membalas chat WhatsApp dari data bisnismu dan mengoper ke admin saat perlu. Biaya dan syaratnya ada di halaman harga.
Artikel terkait
Semua artikelHotel
Cara minta review Google dari tamu hotel tanpa melanggar aturan
Kapan dan bagaimana meminta ulasan Google dari tamu setelah check-out lewat WhatsApp, apa yang dilarang Google dan Tripadvisor, dan cara membalas ulasan buruk.
7 menit baca
Hotel
Kebijakan DP dan pembatalan hotel kecil: cara menulis aturan yang jelas
Cara menyusun aturan DP, batas bayar, pembatalan, ganti tanggal, dan no-show untuk hotel kecil, dengan contoh kalimat dan rujukan UU Perlindungan Konsumen.
8 menit baca
Hotel
Template balasan WhatsApp reservasi hotel: tanya kamar, harga, sampai konfirmasi
Contoh balasan WhatsApp untuk resepsionis hotel kecil: tanya kamar kosong, harga per malam, fasilitas, ringkasan booking, DP, dan saat kamar penuh.
8 menit baca